Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Sejarah Perang Suriah

10 Juli 2020 | History

Banyak dari kita yang tertinggal informasi awal tentang meletusnya perang di Suriah. Lebih-lebih masalah yang dialami hari ini semakin rumit ada kepentingan Rusia yang mensuport rezim Bashar al-Assad agar tidak jatuh, karena kalau sampai jatuh Turki bisa masuk untuk membuka keran gas dari Qatar sampai Eropa yang itu otomatis menyingkirkan peran gas Rusia yang sudah memasok gas terbesar ke Eropa.

Sejarah Perang Suriah

Banyak dari kita yang tertinggal informasi awal tentang meletusnya perang di Suriah. Lebih-lebih masalah yang dialami hari ini semakin rumit ada kepentingan Rusia yang mensuport rezim Bashar al-Assad agar tidak jatuh, karena kalau sampai jatuh Turki bisa masuk untuk membuka keran gas dari Qatar sampai Eropa yang itu otomatis menyingkirkan peran gas Rusia yang sudah memasok gas terbesar ke Eropa.

Belum lagi antar mujahid-mujahid yang beroposisi terhadap rezim al-Assad ini menuai saking serang antar faksinya dan sulit menemukan tokoh pemersatu antar mereka. Lain cerita saat Afghan melawan Soviet walaupun mujahiddin ada 9 faksi tetapi mereka dapat di persatukan secara gagasan oleh Syaikh Abdul Rasul Sayyaf dan orang non Afghan bisa di redam perbedaannya dengan hadirnya Syaikh Abdullah Azzam. Sementara Suriah karena teknologi informasi yang sulit dikendalikan mujahid masih sering terkecoh oleh fitnah-fitnah internal yang di hembuskan intelijen.

Kita harus mulai dari kudeta yang di lancarkan oleh Hafizh al-Assad sehingga ia mampu memainkan arah Suriah yang terlihat melawan Israel, mendukung Hamas, dan memusuhi Amerika. Sejak 1973 Hafizh al-Assad merapihkan posisi-posisi Alawite (Nusayriyyah) yang minoritas dapat menduduki posisi-posisi penting mulai dari militer, aparatur, dan politisi komisi tinggi. Sementara mayoritas Sunni sekalipun seorang pengusaha atau seorang profesional tetap tidak akan bisa berkembang kecuali harus menembus birokrasi orang-orang Alawite.

1982 Ikhwanul Muslim melancarkan revolusi untuk menumbangkan Hafizh al-Assad tetapi menemui jalan buntu karena rezim menggunakan militer untuk membrangus gerakan revolusi. Hasil dari konfrontasi ini adalah di larangnya kegiatan Ikhwanul Muslim, setiap kegiatan Islam di intai intelijen, dan tewasnya 13.000 jiwa di kota Hamma.

Pernah juga sebuah gerakan bersenjata yang di pimpin Syaikh Marwan Hadid berhadapan langsung dengan para militer al-Assad juga menemui kemalangan. Kisah ini di ceritakan oleh Syaikh Abdullah Azzam untuk bersemangat dan berhati-hati menjaga jihad.

Menjelanag awal 1990-an Hafizh al-Assad mengkapanyekan anaknya Basil al-Assad untuk menjadi penggantinya nanti. Namun, sebuah kecelakaan menewaskan sang prototype al-Assad di tahun 1994 hal ini yang melatar belakangi Bashar al-Assad yang sedang mengambil master kedokteran di Inggris untuk pulang dan dimasukan kedunia militer dan di gembleng untuk siap jadi politisi. Ternayata tahun 2000 menjadi awal perubahan Suriah dengan ditandai kematian Hafizh al-Assad dan pemilu yang dimenangkan oleh Bashar al-Assad. Rakyat mengira Suriah akan dibawa menuju ekonomi ala Barat dan menghapus otoritarian klan al-Assad tetapi yang terjadi Bashar lebih buas dari sang ayah.

Revolusi Arab atau Arab Spring (Musim semi Arab) melanda di Tunisia dengan aksi protes Abdul Aziz yang membakar diri dan viral sehingga memicu kemarahan rakyat dan berhasil menumbangkan Presiden Zeinal Abidin Bin Ali. Begitu juga Husni Mubarak di Mesir yang dalam hitungan hari jatuh tergopoh-gopoh. Belum lagi Libya yang sangat mengenaskan sang diktator Afrika utara ini harus ikut lengser dan yang lebih mengenaskannya ia pun mati dalam suasana revolusi.

Yang menarik pecahnya peperangan di Suriah bukan terjadi di kota besar dan bukan di lakukan oleh seseorang yang terstruktur atau seorang demonstran. Semua terjadi saat 15 bocah SMP mencoret-coret tembok dengan tulisan yang menghina rezim. Aksi ini di sambut oleh para militer dan di tangkapnya 15 bocah itu dan yang menyayat hati rakyat adalah kematiannya Hamzah el-Khattib yang photo dan ceritanya viral.

Bergegasnya para kaum revolusi baik yang dilatar belakangi oleh perjuangan Demokrasi, Komunisme, dan Penegakkan Syari’ah, semua tumpah ruah kejalan untuk memprotes atas tindakan rezim. Bashar al-Assad pun merespon dengan senjata yang menjadi awal para mujahiddin terjun ke Suriah serentak dan mulai mengorganisir gerakan jihad.

Meski ada kabar gembira dari Iraq pada 2013 bahwa pasukan Islamic State berhasil menaklukan Mosul sebuah kota yang besar bahkan hampir sebesar Inggris, sayangnya anggota IS ini menunggangi para faksi jihad yang lain dan menyatakan Raqqah telah dibebaskan oleh tentara IS.

2014 pasukan Jabbah Nusrah dan faksi-faksi jihad yang lain berhasil menduduki Aleppo dan sebagian daerah-daerah kecil di Suriah Utara. Namun 2017 semua berbalik kekuatan Barat dan Timur ikut campur lebih dalam dan memporakporandakan para faksi jihad hingga Allepo di bombardir dan Mosul jatuh kepada pemerintah Iraq.

Mungkin ada empat unsyr rezim Assad dibangun di atas empat pioar: pertama, kekuasaan di tangan klan al-Assad, kedua; mempersatukan kaum minoritas Alawite (Nusayriyyah), ketiga; mengontrol sekuruh aparatur-militer-intelijen, dan keempat; monopoli Partai Ba’ath atas sistem politik. Empat hal ini yang setidaknya yang membuat sulitnya rezim Bashar jatuh dalam tiupan angin Revolusi Arab atau biasa media barat menyebutnya, Arab Spring.

Referensi : Trias Kuncahyono dalam bukunya Musim Semi di Suriah

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021