Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Siapa Yang Harus Dikatakan Islam Moderat

12 Juli 2021 | Opinion

Sejak tragedi 11 September yang di klaim sebagai aksi terorisme terbesar dari Islam tiba-tiba semua mendadak mengatakan bahwa kami adalah Islam moderat sebagai pembeda entitas dari kelompok radikal. Pelebaran arti dari Islam moderat ini dalam perjalanannya sebagai gerakan yang memilah-milah syari’at Islam

Siapa Yang Harus Dikatakan Islam Moderat

Sejak tragedi 11 September yang di klaim sebagai aksi terorisme terbesar dari Islam tiba-tiba semua mendadak mengatakan bahwa kami adalah Islam moderat sebagai pembeda entitas dari kelompok radikal. Pelebaran arti dari Islam moderat ini dalam perjalanannya sebagai gerakan yang memilah-milah syari’at Islam. Namun sebelum berbicara jauh tentang aktualnya kelompok yang menisbatkan kepada slogan Islam moderat kita mesti mendudukan dulu kata moderat itu seperti apa?

Dalam KBBI kita akan dapati kata moderat diartikan, “moderat/mo·de·rat/ a [1] selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem; [2] berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah: pandangannya cukup –, ia mau mempertimbangkan pandangan pihak lain.”  KBBI memaknai bahwa moderat adalah pertengahan yang juga kita kenal dalam Bahasa Arab disebut ‘Washith’ artinya pertengahan. Quran dengan gambling dan jelas mendefinisikan kata ‘Washith’ atau moderat dalam Al-Baqarah [2] : 143 “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan agar kamu menjadi syuhada terhadap/buat manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi syahid terhadap/buat kamu.” Jika kita selancar tentang tafsir ayat tersebut tidak jauh-jauh pemaknaannya antara berlaku adil dan mencotoh Nabi Ibrahim menegakkan kiblat, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili bahkan menitik beratkan dengan peristiwa perubahan kiblat dari Al-Quds ke Makkah adalah turunya ayat Al-Baqarah [2] : 143.

Dalam ajaran Islam yang mendasar dalam aqidah kita diarahkan untuk tidak bermudah-mudahan seperti murji’ah dan juga tidak berlebih-lebihan seperti khawarij bahasan ini yang kita kenal dengan istilah ifrad dan tafrith. Maka munculnya kata ahlusunnah adalah sebagai penegasan bahwa Islam adalah moderat dan sikap moderat itu adalah Islam itu sendiri. Sampai sini semua kaum Muslimin umumnya sudah sepakat dan mengetahuinya. Namun kerancuan mulai timbul tatkala dasar Islam yang moderat ini di perkosa oleh orang-orang yang menginginkan nilai-nilai yang bertabrakan dengan Islam untuk di akomodir sebagai bentuk moderat dalam beragama.

Ketika Francesco Petrarca menginginkan wajah dunia yang tidak melulu harus tentang titah-titah Paus dan Raja makai Petrarca membagi sejarah dengan tiga masa pertama, masa keemasaan Yunani, kedua zaman kegelapan atau zaman kepercayaan, dan ketiga zaman Renaissance. Hal ini ia utarakan sebagai penyadaran dan kritik bagi peradaban teokrasi di Eropa. Martin Luther yang gusar melihat praktik penebusan dosa yang menggiring dirinya membuat pertanyaan kritis yang ia tulis dan di tempel di pintu gereja. Friedrich Nietzsche juga hadir membawa pelarutan pemikiran agar ada pemisahan antara sosok Yesus (Nabi Isa) sebagai manusia dan wahyu Al-Kitab agar bisa mempotret Yesus sebagai manusia. Dalam perjalanan keagamaan di Barat hari-hari ini jika seseorang tidak mau mengevolusi pemikiran beragama atau tidak mau berkompromi pada nilai Barat hari ini seperti LGBT, Feminisme, dan Demokrasi dianggap sebagai puritan atau fundamentalis.

Kita balik lagi pada dunia Islam, kita sangat mengetahui bagaimana runtuhnya Turki Utsmani karena tidak membuka luas pintu ijtihad bagi para ulama sehingga kiblat dunia berubah kepada Barat. Namun, tatkala Barat sedang maju melesat di awal revolusi industry (Inggris & Jerman) umat Islam sibuk menelan mentah-mentah semua konsep Barat maka lahirlah peristiwa seperti Rerformasi Tanzimat, Pan-Arabisme, Ba’athisme, dan sebagainya yang berujung pada kesimpulan yang sama seperti dunia Barat yaitu jika seseorang tidak mau mengevolusi pemikiran beragama atau tidak mau berkompromi pada nilai Barat hari ini seperti LGBT, Feminisme, dan Demokrasi dianggap sebagai puritan atau fundamentalis.

Padahal jati diri Islam yang moderat ini seolah harus ditarik kepada pemahaman Barat dan jauh dari konsep Quran dan Sunnah tentang penjabaran moderat. Kita coba sebut LGBT saja sebagai contoh nilai Barat yang sedang dikampanyekan sebagai sesuatu alamiah, padahal dalam Islam praktik bermasyarakat LGBT sangat keras ditentang namun jika Muslimin menolak hal itu dengan beramar ma’ruf nahi munkar sebagai perlindungan diri dan dakwah dikatakan intoleran. Belum lagi isu feminism yang goals terbesar mereka adalah bahwa perempuan bisa mengatur negara hal ini sangat bertentangan dengan Islam yang melarang kepemimpinan negara oleh perempuan. Coba lihat negara yang menjalankan sistem demokrasi pasti mensyaratkan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin negara.

Maka inilah problem dilapangan yang sebenarnya bentrokan cara pandang atau worldview dalam bermasyarakat dari awal sudah tidak selesai. Umat Islam dipaksa untuk menerima nilai yang bertentangan bagi keimanan dan syariatnya dan kaum yang menerapkan nilai Barat (yang bertentangan dengan Islam) mengaku bahwa dirinya adalah Islam moderat.

Berbagai peristiwa politik yang melibatkan umat Islam disana selalu yang keluar adalah kacamata apakah ia seorang moderat atau fundamentalis? Tulisan ini akan benar-benar bisa kalian cerna lebih ringkas secara aktualnya dengan melihat survei Gus Nadir yang ingin mengetes seberapa moderat dalam pendangannya dalam forum seminar “Menjadi Muslim Moderat” yang di upload oleh NU online di Youtube, Gus Nadir mengatakan bahwa, “siapa yang keberatan mengucapkan selamat natal atau selamat hari raya umat non-Muslim?”, “apakah anda keberatan menerima kiriman atau hadiah makanan dari umat agama lain yang tengah merayakan hari agama mereka?”, “apakah anda berkenan turut menyumbang pembangunan rumah ibadah non-Muslim?”, “apakah anda keberatan memakai pakaian sinterklas atau perayaan hari raya umat lainnya?”, “apakah anda keberatan untuk menghadiri misa natal atau kegiatan ritual non-Muslim?”, yang terakhir “apakah anda keberatan non-Muslim menjadi kepala pemerintahan dinegara anda?”

Melihat pertanyaan survei Gus Nadir maka menambah jelas apa yang sedang kita bahas dalam artikel ini bahwa perbedaan cara pandang atau worldview menjadi persoalan serius dan membuktikan bahwa Islam yang sejatinya moderat ditarik habis oleh manusia yang ingin menabrak nilai Islam dengan melabeli dirinya moderat.

Referensi :
– Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hagemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, (Jakarta 2005: Gema Insani Press)
Seminar Menjadi Muslim Moderat, upload 19 Oktober 2019, https://www.youtube.com/watch?v=QMNM_cOpMpM&ab_channel=NUOnline

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

Yang Harus Berguncang Di Meja Santai

Opinion | Rulian Haryadi

Menimbang Aqidah Tan Malaka

Opinion | Rulian Haryadi & Geutha Suwirna

Mengorek Tafsir al-Mishbah

Opinion | Rulian Haryadi

© Copyright Boombox Zine 2021