Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Syaikh Yusuf al-Qardhawi Mengkritisi Revolusi Iran

16 November 2020 | Opinion

Sebagaimana kita ketahui bersama kaum Muslimin di abad 20 sepakat memegang satu mimpi akan hadirnya revolusi Islam yang akan dijadikan prototype bagi negeri-negeri Muslim yang lain untuk melakukannya

Syaikh Yusuf al-Qardhawi Mengkritisi Revolusi Iran

Sebagaimana kita ketahui bersama kaum Muslimin di abad 20 sepakat memegang satu mimpi akan hadirnya revolusi Islam yang akan dijadikan prototype bagi negeri-negeri Muslim yang lain untuk melakukannya. Iran yang sejak digulingkannya Dinasti Qojar 1905 oleh Syah Reza Iran menunjukan diri bahwa mereka ingin mengejar modernisasi dan menggandeng Amerika sebagai mentornya.

Para penganut Syiah masih belum bereaksi keras atas pemerintahan Syah Reza sampai suatu tragedi invasi Soviet yang menggulingkan Syah Reza dan digantikan oleh anaknya Syah Mohammad Reza Pahlavi barulah Iran menjadi utuh atas kebijakan liberalismenya dengan dalih pembangunan dan modernisasi.

Syah Pahlavi pun resmi digulingkan pada 1979 karena terlalu otoriter, membungkam para Mullah atau Ayatullah, menangkapi para aktivis dengan agen Savak, dan benar-benar memisahakan ajaran Syiah sebagaimana Mustafa Kemal memimpin Republik Turki. Revolusi pun terjadi dengan Ayatullah Khomaine sebagai pionir sekaligus simbol dari kepemimpinan Syiah.

Peristiwa Revolusi Iran 1979 disebut-sebut media pada saat itu sebagai Revolusi Islam Iran karena dianggap berhasil menumbangkan liberalisme dengan mengganti konstitusi menuju syari’at (baca penerapan ajaran syiah). Kaum Muslimin pada saat itu masih banyak yang terkecoh oleh Revolusi Iran ini termasuk diantaranya Yassir Arafat Presiden Palestina yang menjadi simbol perlawanan anti Zionis larut dalam biusan narasi Revolusi Iran.

Sampai saat ini pun masih banyak yang mengambil inspirasi atas Revolusi Iran sebagai model perjuangan menumbangkan rezim. Salah satunya kita bisa melihat sastrawan produktif Pidi Baiq yang membawa Ayatullah Khomaini sebagai sosok panutan Dilan dalam novelnya Dilan 1990.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi seorang ulama yang aktif membuat narasi kebangkitan dan penataan politik Islam di era 80-an ini melihat Revolusi Iran harus dikritisi serius. Syaikh memaparkan ada 7 poin yang harus dibedah melihat Revolusi Iran.

  1. Hukum di masyarakat Iran berdasarkan madzhab Syiah, yang bertentangan dengan Ahlusunnah yang menjadi jumhur Muslimin.
  2. Garis pemikiran Syiah dalam masalah ini sudah sama-sama diketahui, berbeda dengan garis pemikiran Islam secara umum, apalagi dalam masalah akidah dan fiqih.
  3. Imamah (kepemimpinan) menurut pandangan mereka termasuk masalah akidah dan dasar-dasar agama, sementara menurut pandangan Ahlusunnah termasuk masalah amal dan cabang agama.
  4. Dasar Imamah menurut pandangan mereka adalah Nash, sementara dasar imamah menurut Ahlusunnah adalah pemilihan (syuro).
  5. Imam menurut mereka ma’shum (tidak pernah salah), sementara menurut pandangan kita kaum Muslimin, seorang pemimpin adalah manusia biasa yang bisa salah dan benar.
  6. Seorang pemimpin menurut mereka bisa naik kesuatu kedudukan yang lebih tinggi dari pada malaikat yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi yang diutus. Sementara Ahlusunnah berpandangan seperti perkataan Abu Bakar ash-Shiddiq, “Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang baik diantara kalian.” Atau seperti perkataan Umar bin Abdul Aziz “Aku hanyalah seseorang, yang hanya saja Allah jadikan bebanku lebih berat dari pada kalian.”
  7. Pemimpin menurut mereka tidak bisa dicopot. Sebab siapapun yang telah dinobatkan sebagai pemimpin, tak akan bisa dicopot. Sementara menurut pandangan kita, umatlah yang memegang hak pengangkatan pemimpin dan mereka pula yang berhak mencopotnya.

Lagi pula sistem yang yang berlaku di Iran lebih tepat seperti Teokrasi yang dibalut Demokrasi pada tataran pemilihan Menteri dan Kepala Daerah sementara Imam bisa mengatur dari takhta yang tinggi layaknya Paus di abad pertengahan.

Kita bisa mensifati Revolusi Iran seperti revolusi Prancis, Amerika, Soviet dan lain-lain. Tidak perlu dianggap bahwa Revolusi Iran sebagai model revolusi Islam yang harus di jiplak. Kita lebih baik melihat Taliban yang sudah nyata mampun menyatukan mujahidin di era perpecahan pasca hengkangnya Uni Soviet dan measih teguh melawan Amerika dan boneka Pemerintah Afghanistan dengan Dakwah dan Jihad.

Referensi : Yusuf al-Qardhawi – Min Fikih Daulah fil Islam

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021