Tafsir Quran Ala Setan

10 Juni 2020 | Opinion

Dewasa ini, hampir di setiap perguruan tinggi Islam Negeri, sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib atau paling tidak dimasukan dalam kurikulum tau paling tidak juga dimasukan dalam materi perkuliahan tafsir. Biasanya di kelas-kelas hanya diperkenalkan sebagai metode tafsir baru

Tafsir Quran Ala Setan

Dewasa ini, hampir di setiap perguruan tinggi Islam Negeri, sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib atau paling tidak dimasukan dalam kurikulum tau paling tidak juga dimasukan dalam materi perkuliahan tafsir. Biasanya di kelas-kelas hanya diperkenalkan sebagai metode tafsir baru. Yang lahir bukan dari kalangan ulama melainkan dari pemikiran orang-orang Kristen.

Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher adalah orang yang memelopori hermeneutika sebagai metode tafsir kitab suci. yang berasal dari kata Yunani ‘Hermeneuin’ yang artinya menafsirkan. Dan merujuk pada dewa Yunani yang bernama Hermes yang dipercaya pengikutnya sebagai penyampaian pesan-pesan dewa kepada manusia.

Metode ini awalnya hanya untuk menafsirkan sastra-sastra kuno yang meniliti konteks bahasa dan apa yang dipikirkan si pembicara pembuat sastra tersebut, berkembang lagi menjadi metode tafsir bibel, kemudian dikembangkan lagi oleh para filsuf dan teolog Barat sebagai metode penafsiran dalam ilmu sosial dan humaniora. Dan mulai berkembang pesat pada awal abad 16-18 yang mulai digandrungi ilmuwan tafsir bibel dalam ranah untuk menafsirkan yang ada didalam kandungan bibel.

Friedrich Schleiermacher inilah yang memprakarsai hermeneutika sebagai metode tafsir bibel, dan Schleiermacher juga dikenal  sebagai “Bapak Hermeneutika Modern”. Dia menolak ajaran-ajaran Kristen yang kolot dan menurutnya ajaran tersebut harus direvisi layaknya skripsi.

Lain dengan di Indonesia kita kenal dengan nama Amin Abdullah seorang dosen pascasarjana UIN sunan kalijaga Yogyakarta yang dijuluki “Bapak Hermeneutika” yang ketika itu menjabat sebagai rektor IAIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat memunculkan hermeneutika ke permukaan dunia tafsir khususnya di Indonesia. Amin Abdullah seakan disebut sebagai pembaharu karena bisa memasukkan hermeneutika menjadi metode tafsir Al-Quran yang baru. Ia sangat kritis jika berbicara tentang metode tafsir klasik. Ia pernah menulis dalam kata pengantarnya disebuah buku Hermeneutika Pembebasan : “….Tafsir-tafsir Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.”

Lalu, kenapa para liberalis begitu senangnya dengan metode tafsir hermeneutika ini? yang sebenarnya metode ini tidak perlu penelitian secara mendalam dari aspek Lughawi (Bahasa) dalam sebuah ayat, cukup dengan logika dan konteksnya. Dengan kata lain cukup memakai perasaan. Sehingga menghasilkan isi tafsir yang amat ngawur dan lari dari kebenaran itu sendiri. Munculah Prof. Amina Wadud menjadi imam Shalat jumat disebuah katedral di Amerika Serikat atas dasar teori yang berupa “Hermeneutika Tauhid”. Saidiman Ahmad mengatakan bahwa ” kaum Nabi Luth itu diadzab bukan karena homoseknya, tetapi karena menggoda malaikat yang ber tamu kerumah Nabi Luth”. Dari kalangan Timur Tengah, Nasr Hamid Abu Zayd mengatakan : “Jin dan setan adalah mitos, poligami haram hukumnya”. Itulah segelintir coba bahwa metode tafsir hermeneutika tak layak di konsumsi dalam hal menafsirkan Al-Quran yang begitu suci.

Al-Quran langsung diturunkan oleh Allah ﷻ, tiada keraguan didalamnya, sementara hermeneutika menyuruh kita untuk tidak percaya telebih dahulu kepada Quran. Dan sambungan ayat al Baqarah ini “petunjuk untuk orang yang beriman. yaitu mereka yang beriman kepada al ghaib dan mendirikan shalat..” ini menegaskan bahwa Quran tidak akan menjadi petunjuk kecuali mengimani dan mendirikan shalat.

Al-Quran itu bukan kitab sastra, Al-Quran adalah wahyu. Rahmat yang dibawa oleh Al-Quran diberikan kepada seluruh Makhluk dan kebenaran yang dibawanya selalu sesuai disegala tempat dan waktu. Dan Quran tidak mempunyai beban sejarah yang pelik sebagaimana kitab-kitab yang lain.

Mizanul Muslim Jilid 1

Judul : Mizanul Muslim Jilid 1
Penulis : Abu Ammar & Abu Fatiah Al Adnani
Penerbit : Cordova Mediatama
Ukuran : 16,5 x 24 cm
Halaman : 672 Halaman
Berat : 1.010gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2020