Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Tanda Kamu Terpapar Islamophobia

25 November 2020 | Opinion

Islamophobia adalah bukan sekedar jargon penghantam umat Islam. Ia bermuatan lebih kejam dari sekedar memicu kebencian orang kafir terhadap Islam melainkan membuat keraguan akan keimanan seseorang

Tanda Kamu Terpapar Islamophobia

Islamoohobia adalah bukan sekedar jargon penghantam umat Islam. Ia bermuatan lebih kejam dari sekedar memicu kebencian orang kafir terhadap Islam melainkan membuat keraguan akan keimanan seseorang bahkan membenci ajaran Islam. Sungguh mengerikan.!

Jika kita telusuri memang dari awal dakwah Islam telah banyak yang mengkampanyekan anti Islam seperti para musyrikin Makkah membisikan kesetiap jama’ah haji agar berhati-hati pada Nabi dan para pengikutnya. Pada era Khalifah Bani Umayah Yahya ad-Dimasyqi atau yang dikenal dengan nama John of Damascus (750 M). Ia menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus dan ia berpendapat bahwa Muhammad adalah penipu bagi orang-orang Arab dan puncaknya mereka meneriakan satu khutbah yang penuh dusta dari Paus Urbanus II ia berkata, “..sebuah bangsa asing yang terkutuk dan menjadi musuh Tuhan, yang tidak lurus hatinya, dan yang jiwanya tidak setia pada Tuhan, telah menyerbu tanah orang-orang Kristen dan membumi hanguskan mereka dengan pedang dan api secara paksa. Tidak sedikit orang-orang Kristen yang mereka tawan untuk dijadikan budak, sementara sisanya dibunuh. Gereja-gereja, kalau tidak mereka hancurkan, mereka jadikan masjid. Altar-altar diporak-porandakan. Orang-orang Kristen mereka sunat, dan darahnya mereka tuangkan pada altar atau tempat-tempat pembaptisan.”

Dari sini kita masih melihat opini orang kafir masih berbatas pada penyimpulan opini bahwa Islam adalah musuh agama atau kepercayaan lainnya. Yang mengejutkan hari berubah transformasi opini itu ditatanam dalam benak baik orang kafir atau muslim bahwa ajaran Islam adalah bentuk kekerasan. Elemen yang mereka prakarsai mulai dari HAM, Kebebasan, dan Demokrasi.

Pada 9 September 2001 menjadi momen yang tepat menggemboskan Islamophobia pada setiap media di dunia. Aksi-aksi bom Madrib, London, Mumbai, Bali, dan tempat-tempat lain dijadikan bahan legitimasi atas keabsahan penudingan teroris kepada Islam. Kalau kita perhatikan sedikit pada saat yang sama Amerika menyelundup ke Iraq dengan leluasa membombardir Baghdad dan mendirikan pangkalan militer di Afghanistan dengan dalih pemerintah Imarah Islam (Taliban) tidak mau memberikan Osama bin Laden.

Alhamdulillah hari kita bisa saksikan ekspansi Islam baik dari budaya, design, arsitektur, kedokteran, dan hal-hal lain telah mewarnai peradaban. Kalian tidak akan bisa saksikan wanita berniqab sebanyak ini pada tahun 90-an atau awal 2000. Kalian juga tidak akan bisa saksikan narasi-narasi semangat beribadah tercurahkan ekspresinya melalui media baik cetak, elektronik maupun internet.

Semangat berislam ini juga masih ada bercokol paham Islamophobia pada diri kaum Muslimin. Ada beberapa indikator yang bisa kita sajikan dalam meneliti apakah kita sesuai yang diinginkan al-Qur’an “udkhulu fii silmi kaffah..” atau di singgung pada ayat sebelumnya di Al-Baqarah : 85.

Pertama masih banyak Muslimin yang menolak pemberlakuan hukum Islam atau enggan memperjuangkan penegakkan syari’at Islam. Hal ini disinyalir bahwa seseorang terasuki Islamophobia karena ia enggan menetapkan hukum Allah atau memperjuangkannya karena takut di cibir, di asingkan, atau takut kehilangan pekerjaannya. Contohnya seorang mahasiswa menolak hukum Qishas karena dianggap tidak manusiawi dan dinilai melanggar HAM.

Kedua yang jadi indikator terjangkit Islamophobia adalah takut akan jihad bahkan menuliskan kata jihad saja tidak berani. Sebagaimana kita tahu para mubaligh pun selalu memakai terminologi “bersungguh-sungguh” dalam memaknai jihad. Syaikh Dr. Abdullah Azzam menuturkan dalam Tarbiyyah jihadiyyah bahwa kata bersungguh-sungguh memang benar secara bahasa namun tidak secara syar’i. Kalau semua bisa dipakai hanya dengan etimologi (pemaknaan secara bahasa) tentu shalat tidak perlu wudhu, rukuk dan sujud karena shalat artinya berdo’a.

Ketiga menyamaratakan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Banyak dari kaum Muslimin masih enggan mengalihkan sistem keuangannya dan mencoba berijtihad menemukan sistem tandingan daripada perbankan hari ini. Akibat penyamarataan ini mengakibatkan menjamurnya riba dan menyuburkan kemiskinan pada individu Muslim itu sendiri. Sekarang sudah banyak para ekonom Muslim dan para saudagar yang mengkampanyekan ekonomi non riba namun kebanyakan dari mereka masih menggampakan urusan riba dan ini jelas mereka terjangkin Islamophobia.

Keempat ketakutan berlebihan mendengar kata Khilafah Islamiyyah. Khilafah digambarkan dalam benak orang yang terjangkit Islamophobia ialah sebuah tatanan sistem yang kaku, tidak toleran, dan menolak keberagaman. Faktanya Khalafah Islam yang berdiri tegak selama 13 abad itu menaungi beribu etnis, berbagai macam agama, dan menaungi semua hak hidup serta memenuhi hajat manusia tanpa memandang agama dalam mendistribusikan keadilan.

Kelima enggan melakukan nahi munkar adalah indikator besar bahwa seseorang terpapar Islamophobia. Banyak hari ini yang mengajak kepada kebaikan baik berupa ajakan shalat, mengaji, menghafal quran, memberi makan orang miskin, dan lain sebagainya namun hanya sedikit yang berniat membrangus kemaksiatan. Hal-hal kecil seperti praktik perdukunan di kampung-kampung, perjudian, toko-toko yang menyediakan minunan keras, dan menyapu semua pemuda Islam yang masih berkerumun santai di saat waktu shalat Jum’at.

Lima indikator diatas adalah bukti bahwa Islamophobia pada diri seseorang masih bercokol sekalipun ia telah menggunakan niqab atau la isbal tetap ia bukan jaminan.

“Apabila kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, berpegang pada ekor sapi, kalian ridha dengan hasil tanaman dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membuat kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabut kehinaan tersebut (dari kalian) sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)

“Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021