Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Upaya Pengahapusan Frasa “Agama” dalam Peta Pendidikan

22 Juli 2021 | Opinion

Gunjang-ganjing pemisahan ilmu agama dalam Pendidikan memang bukan hal yang baru di Indonesia justru ini menjadi isu yang primordial bagi keberlangsungan Pendidikan di Indonesia. Isu-isu pendidikan di Indonesia menjadi sorotan, ini diprakarsai oleh kebijakan-kebijakan yang menurut para pakar hampir melenceng dari rel utamanya

Upaya Pengahapusan Frasa “Agama” dalam Peta Pendidikan

Gunjang-ganjing pemisahan ilmu agama dalam Pendidikan memang bukan hal yang baru di Indonesia justru ini menjadi isu yang primordial bagi keberlangsungan Pendidikan di Indonesia. Isu-isu pendidikan di Indonesia menjadi sorotan, ini diprakarsai oleh kebijakan-kebijakan yang menurut para pakar hampir melenceng dari rel utamanya. Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Haidar Nashir memberikan kritik tajam kepada pemerintah khususnya jajaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mas Nadiem Makarim, kritik yang bagaimana?, marilah kita simak bersama pembahasan ini.

Pada Rumusan Peta Pendidkan 2020-2035 Prof. Haidar Nashir, selaku Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menanggapi rumusan tersebut dengan mengatakan, “Mengapa peta jalan yang dirumuskan oleh Kemendikbud berani berbeda dari atau menyalahi Pasal 31 UUD 1945. Kalau orang hukum itu mengatakan ini pelanggaran konstitusional, tapi kami sebagai organisasi dakwah itu kalimatnya adalah ‘tidak sejalan’ dengan Pasal 31,”.

Kritik selanjutnya dari Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah. Beliau tak segan melayangkan dengan kalimat “Rapor Merah”, melansir liputan dari kompas.tv Beliau mengungkapkan:

“Pandangan saya Kemendikbud diserahkan pada orang yang bukan ahlinya. Bukan orang yang paham sejarah pendidikan Indonesia. Makanya sebelum munculnya (kasus) peta jalan, saya sudah menyatakan bahwa saya memberikan rapor merah pada Mendikbud yang sekarang itu,” ungkap Azyumardi dalam Pengajian Ramadan 1442 H PP Muhammadiyah, Minggu (18/4/2021).

Dr. Adian Husaini dalam acara Round Table Discussion menyampaikan gagasan mengenai pembukaan UUD 1945 dan pasal 31 UUD 1945. Dengan dirumuskan pembukaan UUD 1945 dan pasal 31 UUD 1945 secara tidak langsung telah menyumbangkan pijakan kokoh bagi perumusan sistem pendidikan nasional. Pembukaan UUD 1945 memuat konsep Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, “atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…..”, konsep negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa, konsep kemanusiaan yang adil dan beradab, konsep kepemimpinan, hikmah dan perjuangan mewujudkan keadilan sosial.

Lanjut Adian Husaini, tujuan pendidikan nasional yang termuat pada pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa. Penegasan tujuan pendidikan lainnya termaktub dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas dan UU no 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi bahwa tujuan pendidikan Nasional adalah membentuk manusia beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Yang mana tujuan tersebut telah ditegaskan dan dirinci dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Standar Kompetensi Lulusan Permendikbud No 20 tahun 2016.

Upaya penghilangan frasa agama ini sangat berakibat berat sekali sebagaimana Prof. Al-Attas dalam ceramahnya di seminar Kebudayaan Islam Internasional di Manchester Inggris 1975 menyatakan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar sebagai pengajaran atau penambah wawasan namun pendidikan haruslah berdampak kepada perubahan sikap dan perilaku dengan bersumber pada ilmu yang benar. Karena dalam Islam pendidikan memiliki tujuan untuk membentuk manusia yang baik bukan hanya diprioritaskan membentuk warga negara yang baik. Konsep seorang yang baik dalam Islam tidaklah sesempit makna baik dalam pengertian sosial kehidupan sehari-hari. Namun seseorang yang baik dapat diartikan bahwa dirinya mampu berbuat adil terhadap diri sendiri. Karena baik dan adil terhadap diri sendiri akan menimbulkan sikap baik dan adil terhadap orang lain. Dijelaskan pula bahwa dalam Islam pengetahuan mencakup iman kepada Allah dan kepercayaan begitu pun dengan tujuan menuntut ilmu. Penanaman kebaikan dan keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia yang utuh bukan hanya sebagai warga negara atau bagian integral dari masyarakat merupakan tujuan dalam menuntut ilmu.

Penentuan arah sebuah pendidikan adalah setengah dari perjalanan program pendidikan itu sendiri, tak heran jika dua tokoh negeri kita yang mempunyai otoritas dalam bidang pendidikan memberikan pengawalanya dalam bentuk kritik elegant sekaligus membangun. Dari pemaparan tokoh-tokoh diatas setidaknya arah pendidikan Nasional ini dapat dievaluasi dan kembali pada tujuan yang sudah disetujui dalam UUD 1945 pasal 31 yaitu iman dan takwa sebagai dua kunci utama yang akan melahirkan SDM yang unggul berakhulkarimah adil dan ber-adab. Kemudian dalam segi kurikulum juga harus berpedoman dengan nilai-nilai Iman, takwa dan akhlak karimah. Kemudian dalam kriteria guru saat ini, diperlukan guru yang mempunyai kualitas, jiwa keikhlasan, dan cerdas sebagai agent of change yang mendidik para peserta didik di negeri ini. Wal Akhir, proses penentuan peta penddidikan nasional ini yang menuai kritik seyogyanya tidak terulang lagi, harus lebih jeli dan teliti dalam menggodok Peta Pendidikan Negeri ini, karena Negeri ini adalah negeri yang berpedoman kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar religius, apa jandinya jika frasa “Agama” hilang dalam arah penddidikan kita? coba renungkan!. Wallahu ‘Alam Bishowab.

Referensi :
Adian Husaini, Pendidikan Islam, (Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa 2018)
Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Bandung 1981: Pustaka)
Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam, (Universiti Malaya 2004)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021