Urgensi Syariat Islam Terhadap Kekerasan Seksusal – Opinion

Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE


Beli Buku





Urgensi Syariat Islam Terhadap Kekerasan Seksusal

10 Desember 2021 | Opinion

Herry Wirawan (36) usai dibekuknya pada 7 Desember kemarin atas kekerasan seksual yang total, ada 12 santriwati diperkosa yang dimana 9 di antaranya melahirkan dan dua masih dalam keadaan hamil. Bahkan, ada santriwati hamil dua kali akibat aksi bejat pelaku. Mirisnya lagi anak-anak hasil zinah itu dijadikan untuk mencari donasi untuk keberlangsungan Herry


Baca

Urgensi Syariat Islam Terhadap Kekerasan Seksusal

Herry Wirawan (36) usai dibekuknya pada 7 Desember kemarin atas kekerasan seksual yang total, ada 12 santriwati diperkosa yang dimana 9 di antaranya melahirkan dan dua masih dalam keadaan hamil. Bahkan, ada santriwati hamil dua kali akibat aksi bejat pelaku. Mirisnya lagi anak-anak hasil zinah itu dijadikan untuk mencari donasi untuk keberlangsungan Herry.

Kasus-kasus semacam ini dipastikan akan mengerucut pada dua argumen besar, pertama pandangan yang menganggap bahwa kekerasan seksual terjadi karena tindakan liar pelaku dan bukan pada busana (hijab) serta menganggap kurangnya seks edukasi pada remaja. Pandangan kedua beranggapan bahwa pelaku justru akan lebih buas jika para wanita berpakaian senonoh dan harusnya ada mahram (pendamping) jika wanita keluar.

Dua argumen diatas selalu menghiasi timeline beranda sosial media acap kali kasus kekerasan seksual viral. Menariknya keduanya tidak mengambil konklusi yang konprehensif mengatasi ini. Sebagaimana kita ketahui sebuah kekerasan seksual adalah benang kusut yang tidak bisa ditumpas ditengah jalan. Coba kita lihat bagaimana penerapat syariat Islam bekerja menghalau kekerasan seksual. Syariat Islam tidak bisa dijalankan setengah-setengah dalam arti kata ia meliputi cara pandang dan hukum. Misal dalam satu masyarakat antara satu pihak dan yang lain mengerti atau diberi edukasi agar tahu sama tahu tentang batasan seks. Sebagai contoh kontra diktifnya ialah jika seorang wanita mengenakan hijab namun lingkungan disekitar tidak ada edukasi tentang adab terhadap wanita tentulah wanita itu akan diterkam oleh predator seks hanya menunggu waktu. Contoh yang lain jika semua orang dalam lingkungan telah di tanam tentang seks edukasi dan larangan kekerasan seksual tanpa adanya syariat hijab dan larangan khalwat (campur baur) bagi aturan sosial tentu hal yang sama akan terjadi.

Syariat Islam adalah rahmat yang begitu luas bagi manusia tidak seperti yang digambarkan Barat bahwa syariat Islam hanya berkutat pada hudud dan qishash saja. Syariat Islam meliputi pengaturan individual dengan Allah, sosial antar manusia, dan penegakkan hukum atas para pelanggar syariat. Hal ini membuatnya harmonis dan menekan distorsi moral di tengah masyarakat. Jika satu saja dari rantai diatas dihilangkannya aturan misal individual dengan Allah atau yang biasa kita sebut aqidah/iman/wara’/tauhid ini tidak diterapkan pada tiap individu maka poin tentang sosial antar manusia (ijtimaiyyah) dan penegakkan hukum (Hadd) akan nihil tercapai begitupun seterusnya jika hanya diprintil satu dan mengenyahkan poin yang lainnya.

Problemnya masyarakat Islam dalam lingkungan sekuler sekalipun untuk menerapkan harmonisasi syariat mereka umumnya menerima tentang individual dengan Allah dan sosial antar manusia (Ijtimaiyyah) namun sulit menerima penerapan hukum Islam dalam peradilan. Hal ini yang membuat sulitnya membrangus kekerasan seksual di masyarakat.

Padahal angka yang mengerikan tentang kekerasan seksual terus melonjak tajam. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada 2020, jumlah kekerasan terhadap anak meningkat menjadi 11.278 kasus, di antaranya kekerasan fisik 2.900 kasus, psikis 2.737 kasus, kekerasan seksual 6.980 kasus, eksploitasi 133 kasus, TPPO 213 kasus, penelantaran 864 kasus, dan kasus kekerasan lainnya sebanyak 1.121. Belum lagi data soal HIV akibat keberlangsungan seks bebas sungguh meresahkan.

Kekerasan seks masalah yang serius karena bukan hanya korban yang mengalami beban moral dan mental namun lingkungan akan muram karena merasa tidak aman. Atau jika lingkungan tidak menganggap persoalan berarti pada kasus kekerasan seksual sungguh sekumpulan orang disana tinggal menunggu hari berubahnya generasi yang kasar dan tidak bertanggung jawab.

Sudah cukup penanganan seks bebas dengan cara bagi-bagi kondom. Hal ini sungguh menggelikan pasalnya tidak ada tindakan preventif seolah membiarkan masyarakat bermain dipinggir jurang. Padahal Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan”. Penelitian Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA: Virus HIV dapat menembus kondom.

Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

 الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur : 2)

Firman Allah sudah jelas jangan ada belaskasihan terhadap pelaku yang terbukti melakukan kekerasan seksual. Meski perintah ayatnya jelas namun jika kita lihat realitas harapan itu masih terasa berat untuk menerapkan Hadd di dunia demokrasi karena sejatinya demokrasi ingin meninggalkan nilai agama meskipun itu diperlukan bagi keberlangsungan rakyat. Belum lagi anggapan bahwa firman Allah bersifat keyakinan personal tidak untuk ranah kebijakan negara. Singkatnya problem kekerasan seksual itu harus dibrangus dari cara pandang sekuler-liberal karena itu yang paling mendasar. Cara pandang adalah asas yang bisa menimbulkan kesadaran perlunya syariat Islam.


Kembali

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr


Beli Sekarang

Populer

Abdullah Azzam Kritik Pemikiran Barat

Opinion | Geutha Suwirna

Kami Memiliki Prinsip Toleransi

Opinion | Geutha Suwirna

Klandestin Ghazwul Fikri

Opinion | Geutha Suwirna

Menimbang Aqidah Tan Malaka

Opinion | Geutha Suwirna & Rulian Haryadi

© Copyright Boombox Zine 2021


Facebook


Instagram


Youtube