Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Wanita Itu Bernama Maryam Jameelah

19 Juli 2021 | Figure

Modernisme adalah tema besar dari peradaban Barat. Peradaban Barat lahir karena masyarakat Eropa kecewa dengan Teokrasi yang dilabeli oleh para agamawan Kristen. Peradaban Barat pada dasarnya mengambil inspirasi filsafat kehidupan masyarakat Yunani, Romawi, negara-negara Eropa, ajaran Yahudi dan Kristen. Francesco Petrarca (1304-1374)

Wanita Itu Bernama Maryam Jameelah

Modernisme adalah tema besar dari peradaban Barat. Peradaban Barat lahir karena masyarakat Eropa kecewa dengan Teokrasi yang dilabeli oleh para agamawan Kristen. Peradaban Barat pada dasarnya mengambil inspirasi filsafat kehidupan masyarakat Yunani, Romawi, negara-negara Eropa, ajaran Yahudi dan Kristen. Francesco Petrarca (1304-1374) menginginkan wajah dunia yang tidak melulu harus tentang titah-titah Paus dan Raja makai Petrarca membagi sejarah dengan tiga masa pertama, masa keemasaan Yunani, kedua zaman kegelapan atau zaman kepercayaan, dan ketiga zaman Renaissance. Di era Petrarca itulah yang disebut pemikiran modern dan segala macam padanannya di galakkan.

Respon kaum Muslimin terhadap moderanisme menjadi beragam, ada yang menolak secara mutlak dan ada yang menerima moderanisme pada substansi yang tidak berbenturan dengan ajaran Islam. Salah satu contoh ialah Maryam Jameelah yang memandang moderanisme Barat begitu menarik Ia menyandang nama Margareth Marcus sebelum memeluk Islam. Berasal dari keluarga Yahudi, Margareth dibesarkan dalam lingkungan yang multietnis di New York, Amerika Serikat. Nenek moyangnya berkebangsaan Jerman, “Keluarga kami telah tinggal di Jerman selama empat generasi dan kemudian berasimilasi ke Amerika,” papar Maryam, dalam buku Islam and Orientalism. Persinggungan yang semakin intens dengan Islam baru terjadi saat menempuh pendidikan di New York University. Usianya yang baru 18 tahun kala itu dan di tahun keduanya, Margareth mengikuti mata kuliah Judaism in Islam karena ingin mempelajari Islam secara formal dan mendalam.

Setiap perkuliahan, sang dosen kerap menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang diadopsi dari agama Yahudi. Segala yang baik dalam Islam pada dasarnya berasal dari kitab Perjanjian Lama, Talmud dan Midrash. Tak jarang pula diputar film-film tentang propaganda Yahudi yang Intinya menunjukkan inferioritas Islam dan umat Muslim. Hal  ini justru membuat Margareth begitu merasa janggal. Dia merasa ada yang aneh dengan segala penjelasan tadi terkesan menyudutkan. Dirinya merasa tertantang untuk membuktikan bahwa segala yang diterimanya di perkuliahan ini lebih bernuansa kebencian kepada Islam.

Margareth menyediakan waktu, pikiran dan tenaga yang cukup panjang untuk mempelajari Islam secara mendalam, sekaligus membandingkannya dengan ajaran Yahudi. Apa yang terjadi? Dia justru banyak melihat kekeliruan dalam agama Yahudi, sebaliknya menemukan kebenaran pada Islam.

Hasil penelitian dicurahkan dalam suratnya kepada Abul A’la al-Maududi, seorang ulama dan guru besar Pakistan. Di situ sia menulis, “Pada kitab Perjanjian Lama memang terdapat konsep-konsep universal tentang Tuhan dan moral luhur seperti diajarkan para Nabi, namun agama Yahudi selalu mempertahankan karakter kesukuan dan kebangsaan. Sebagian besar pemimpin Yahudi memandang Tuhan sebagai agen real estate yang membagi-bagikan lahan untuk keuntungan sendiri. Maka, walau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Israel sangat pesat, namun kemajuan material yang dikombinasikan dengan moralitas kesukuan ini adalah suatu ancaman bagi perdamaian dunia.”

Kecintaan Margareth kepada Islam tak terbendung lagi. Dirinya semakin mantap untuk memilih Islam sebagai jalan hidup. Akhirnya ketika berusia 19 tahun, Margareth resmi memeluk Islam, tepatnya pada tahun 1961. Dia mengganti namanya menjadi Maryam Jameelah. Seperti tertera dalam buku Islam and Orientalism, sebenarnya keinginan menjadi mualaf sudah sejak jauh-jauh hari, akan tetapi selalu dihalangi keluarganya. Mereka meneror  dengan mengatakan bahwa umat Islam tidak akan bersedia menerimanya karena berasal dari keturunan Yahudi.

Namun, Margareth tidak gentar, dan dia mampu membuktikan bahwa apa yang dikatakan keluarganya tidaklah benar. Umat Muslim justru menyambutnya dengan hangat. Keputusan beralih menjadi Muslimah diakuinya, kemudian ia turut dipengaruhi oleh kekagumannya pada dua karya terkenal dari Mohammad Assad, yakni The Road to Mecca dan Islam at Crossroad . Tak lama setelah itu, Maryam memulai kegiatan penuangan ide, gagasan dan pemikirannya sebagai penulis tetap pada majalah Muslim Digest terbitan Durban, Afrika Selatan. Artikel-artikelnya kerap menekankan inti ajaran tentang akhlak, takwa dan iman, serta kebenaran dalam agama Allah ﷻ. Dan melalui aktivitas di jurnal itu, dia semakin akrab dengan Mawlana Sayyid Abu Ala Al-Maududi, pendiri Jamaati-Islami (Partai Islam) Pakistan, yang juga kontributor di jurnal yang sama.

Maryam sangat terkesan dengan karya dan pemikiran-pemikiran Al-Maududi, sehingga memutuskan untuk berkorespondensi. Surat-menyurat antara keduanya dilakukan pada kurun waktu 1960-1962, dan kemudian dibukukan dengan judul  Correspondences Between Mawlana Mawdoodi and Maryam Jameela. Keduanya saling berdiskusi tentang banyak hal terkait kehidupan umat Muslim, hubungan Islam dan Barat, serta masih banyak lagi.

Sebenarnya, beberapa saat sebelum memeluk Islam, Maryam Jameela sudah aktif menulis sejumlah artikel yang intinya membela Islam. Dia juga gencar mengkritik berbagai paham modern yang seolah hendak dipaksakan untuk diterapkan kepada masyarakat Islam. Atas undangan Al-Maududi pada tahun 1962, Maryam datang ke Pakistan. Tak sekadar berkunjung, dia bahkan disarankan untuk menetap di Lahore agar bisa lebih fokus pada aktivitas intelektualnya. Beberapa waktu kemudian, dia menikah dengan Muhammad Yusuf Khan.

Sejak menetap di Pakistan, Maryam menghasilkan sejumlah karya yang berpengaruh, termasuk dalam menerjemahkan ideologi Jamaati-Islami dengan bahasa yang sistematis sehingga diterima secara luas. Meski tidak secara formal terlibat dalam partai itu, Maryam adalah salah satu pembela paling gigih terhadap paham dan ideologi Jamaati-Islami. Hingga kini, Maryam masih tinggal di Pakistan dan terus berkarya dan menciptakan beberapa penelitian tentang modernisme.

Dalam penelitiannya, Wanita kelahiran 23 mei 1934 tersebut mempunyai cara pandang bahwa terpuruknya moral bangsa Barat saat ini, adalah karena modernisme Barat itu sendiri. Kemajuan teknologi Barat yang matrialistis dan sekular tanpa dibarengi moral yang baik, hanya akan menghancurkan dirinya sendiri. Sementara Islam tetap konsisten mengusung moral yang berlandaskan wahyu. Dari sini Maryam Jameelah sangat yakin akan munculnya renaissance Islam.

Dari beberapa tema yang di kemukakan Maryam Jameelah dalam diskursus modernisme barat adalah: tentang sumber, tokoh-tokoh, tema-tema pemikiran, kritik terhadap respon pemikir muslim, dan apa yang seharusnya diperbuat muslim untuk meraih kejayaannya kembali.

Maryam Jameelah meninggal pada tanggal 31 Oktober 2012 di Lahore, kira-kira setahun setelah biografi The Convert diterbitkan. Dalam sebuah obituari yang diterbitkan di The Friday Times (sebuah mingguan berbahasa Inggris di Pakistan) Deborah Baker secara singkat mengisahkan perjalanan hidup Maryam Jameelah (The Friday Times edisi 9-15 November 2012).

Referensi;
Adian Husaini, Hegemoni Kristen- Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008)
Deborah Baker, The Convert, (Minnesota, Minneapolis: Graywolf Press 2012)
Fathul Umam, Surat-Menyurat Maryam Jamilah Maududi, (Bandung: Mizan 1983)
Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009)
Maryam Jameelah ; Islam dan Modernisme, (Surabaya: Al-Ikhlas 1982)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021