Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Zainab Al-Ghazali, Muslimah Abad Ini Yang Patut Ditiru

17 Oktober 2020 | Figure

Rasanya pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya adalah hal yang tepat untuk menggambarkan sosok perempuan tangguh mujahidah ini. Lahir dari keluarga terhormat dimana sang ayah merupakan keturunan Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu’anhu dan ibunya berasal dari garis keturunan Hasan bin Ali bin Abi thalib cucu Rasulullah ﷺ

Zainab Al-Ghazali, Muslimah Abad Ini Yang Patut Ditiru

Rasanya pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya adalah hal yang tepat untuk menggambarkan sosok perempuan tangguh mujahidah ini. Lahir dari keluarga terhormat dimana sang ayah merupakan keturunan Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu’anhu dan ibunya berasal dari garis keturunan Hasan bin Ali bin Abi thalib cucu Rasulullah ﷺ. Wajar saja jika sosok Zainab Muhammad Al-Ghazali al-Jibili atau yang lebih dikenal sebagai Zainab Al-ghazali ini memiliki semangat untuk berjuang dan mengantarkan Islam kembali pada masa kejayaannya di tanah Mesir. Zainab lahir pada 2 januari 1917 di Mayet Ghumar al-Daqiliyah, daerah Buhairah, Mesir. Sejak masih kecil, Zainab sudah terbiasa belajar langsung dari lingkungan ulama- ulama besar Al-Azhar, dimana ayahnya adalah satu dari ulama Al-Azhar. Terdidik dilingkungan yang religius membuat Zainab menjadi sosok muslimah tangguh nan cerdas. Ayah Zainab selalu menanamkan kepadanya untuk menjadi muslimah layaknya shahabiyah Nusaibah binti Ka’ab Al-Muzanniya, yang ikut andil bersama Rasulullah ﷺ berjuang dalam perang Uhud.

Perjuangan Zainab dimulai saat dirinya berusia 16 tahun, Zaenab tergabung kedalam EFU (Egyptian Feminist Union) yang dipimpin oleh Hadi as-Sya’rawi. Zainab bergabung untuk menyuarakan hak-hak perempuan yang dirasa telah dirampas dan dibatasi untuk bisa kembali sesuai dengan syariat Islam. Meski begitu dalam prosesnya tidak sesuai yang diharapkan Zainab karena visi EFU bertentangan dengan apa yang menjadi tujuannya. EFU lebih menggunakan pendekatan feminis sekuler kebarat – baratan dalam memperjuangkan hak perempuan.  Zainab melilih keluar dan mendirikan Jamiat Al-Sayyidat Al-Muslimin atau Muslim Ladies Association (MLA) pada 1936. Melalui organisasi yang didirikan olehnya, Zainab melakukan banyak usaha untuk memajukan muslimah seperti memberi kuliah umum mingguan di Masjid Ibn Thulun yang dihadiri hingga lima ribu muslimah, melakukan kegiatan sosial seperti memberi santunan & menyekolahkan anak yatim, orang miskin dan juga memberi bantuan kepada para janda Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban rezim yang dimasukkan kedalam penjara Mesir.

Sosok Zainab terbiasa dengan didikan ayahnya tumbuh menjadi pemimpin wanita tangguh yang tidak hanya cerdas, namun secara terang-terangan bersuara lantang menolak kemungkaran. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan orasinya yang mampu menggerakkan ribuan muslimah yang hadir di Masjid Ibnu Thulun untuk ikut menolak kemungkaran. Terbukti saat Menteri Pendidikan Mesir Syahdan ingin mengadakan konser untuk menyambut tokoh orientalis dari Perancis. Zainab berkata dengan lantang kepada jamaah, ”siapa yang ingin mati syahid dan berada di surga?”. Tanpa pikir panjang jamaah yang hadir bangkit dan langsung ikut membongkar peralatan konser. Karena tindakannya tersebut, Perdana Mentri Mesir saat itu, Musthafa Basya An- Nuhas, memilih membatalkan kedatangan tokoh dari Perancis ke Kairo.

Selain kemampuan memimpin dan berorasi, Zainab pun berbakat dalam menulis. Dia menjadi editor bagi sebuah majalah Al-Da’wah bagi pembangunan rumah tangga muslim yang sejati. Diantaranya karya tulis Zainab adalah Ayyamin Hayati, Nazarat Fikitabillah, Bathu Jadid dan Asma Allah al- Husna.

Puncak perjuangan Zainab adalah saat dirinya memutuskan untuk bergabung bersama Ikhwanul Muslimin yang dibentuk oleh Hasan Al-Banna. Pada 23 Juli 1952 telah terjadi revolusi untuk menggulingkan kepemimpinan Raja Farouk oleh gerakan Free Officers yang dipimpin oleh Muhammad Naguib, Anwar Sadat dan Gamal Abdun Naser. Revolusi tersebut muncul akibat ketidakberesan pemerintahan Raja Farouk. Free Officers yang awalnya mencari dukungan Ikhwanul Muslimin yang sudah terjalin sejak 1940, justru menjadi hubungan  yang berakhir dengan pencampakan sepihak oleh Free Officers setelah penggulingan rezim pada 1952. Benarlah rupanya mengenai pepatah yang mengatakan Tidak ada teman dan lawan yang abadi. yang abadi hanyalah proses politik itu sendiri. Power tend to corrupt.

13 Januari 1954, pemerintah Mesir dibawah pimpinan Gamal Abdun Naser melarang Kegiatan Ikhwanul Muslim yang berujung  dengan penangkapan, penyiksaan yang tidak hanya sekedar dipenjarakan saja namun juga dihukum berat. Pada Agustus 1965, setelah gerakan bawah tanah yang dilakukan Zainab bersama MLA, Zainab ditangkap dirumahnya sendiri secara semena-semena oleh rezim pemerintahan Presiden Gamal Abdun Naser dengan penggeledahan paksa dan tanpa surat perintah penangkapan. Zainab dibawa secara paksa dan dimulailah siksaan demi siksaan dalam penjara.

Layaknya para Salafush Shalih, Zainab melalui penyiksaan dengan rasa sabar dan pasrah kepada Allaah. Dalam bukunya Ayyam min Hayati, Zaenab menceritakan bagaimana siksaan demi siksaan dilewati olehnya selama dipenjara. Mulai dari cambukan, pemukulan, dimasukkan dalam tangki air, dikurung didalam sel berisi tikus dan juga anjing-anjing buas yang siap menggigit dan mengoyak tubuhnya. Namun kuasa Allaah begitu besar merahmati mereka yang berjuang dijalanNya. Zainab menceritakan tentang bagaimana tak satupun gigitan dan cabikan Anjing- anjing didalam tahanan tersebut merobek kulitnya. Ia bercerita tentang Bagaimana Dirinya pasrah dan berdoa kepada Allaah memohon anugerah dan pertolongan selama menghadapi siksaan demi siksaan. “Ya Allah! Buat saya tidak terganggu oleh apa pun kecuali Engkau. Biarlah segala perhatian saya hanya kepada Engkau saja. Engkau Rabbku Yang Maha Esa Maha-abadi, bawalah aku dari dunia ini. Alihkan perhatianku dari semua fenomena ini. Biarkan seluruh perhatianku hanya kepada-Mu. Buat hamba berdiri di hadapan-Mu. Anugerahilah hamba ketenangan. Berilah hamba pakaian cinta-Mu. Anugerahilah hamba kematian di jalan-Mu dan cinta kepada-Mu. Ya Allah! Teguhkanlah diri hamba di atas agama-Mu.” Karomah yang paling luar biasa ialah ketika ia sudah masuk sel tahanan, setiap malam ia bermimpi berjumpa bersama Rasulullah ﷺ dan memakan buah-buahan dalam mimpi yang ketika terbangun rasa manis buah itu masa terasa dilidah.

6 tahun kemudian Zainab dibebaskan setelah kekuasaan Gamal Abdun Naser berakhir dan digantikan oleh Anwar Sadat. Setelah momen tak terlupakan tersebut, Zainab kembali ke dunia dakwah dan menghidupkan kembali majalah Sayyidat Muslimah dengan menjadikan dirinya sebagai direktur. Zainab kembali menggalakkan dakwah melalui seminar dan pengajian baik didalam Mesir maupun diluar Negeri. Meski dengan perjuangan yang luar biasa, dalam kehidupan pribadinya Zainab menikah dua kali dan tidak dikaruniai buah hati.

Walah begitu, ia menganggap semua anak-anak islam adalah anaknya juga. Zaenab al-Ghazali meninggal pada Agustus 2005 diusianya yang 88 tahun.

Referensi :

  • al-Ghazali, pioneer of islamist feminism by Pauline Lewis
  • Tarbiyah Jihadiyah by Dr. Abdullah Azzam

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021